Waspada dengan teman yang seperti ini.

Siapapun sejatinya boleh dijadikan teman, boleh dijadikan kenalan, atau boleh dijadikan relasi untuk urusan kerja.
Tetapi untuk dijadikan seorang sahabat, maka perlu pertimbangan lebih. Orang-orang yang dekat dengan kita, secara langsung mempengaruhi cara hidup, cara pandang, juga merubah perilaku kita dalam pergaulan.
Bahkan bisa dikatakan, kualitas diri kita, tercermin dari siapa yang dekat dengan kita.


Berikut 4 sifat seorang teman yang perlu diwaspadai :

1. Terlalu sering mengeluh.

Sifat tersebut sangat merugikan, bahkan merugikan orang-orang disekitarnya. Lisannya akan mudah memberi sugesti negatif pada diri kita, membuat tidak percaya diri, membuat pesimis menghadapi tantangan, ciri teman seperti itu hanya akan menghambat jalanmu menuju berhasil.

2. Tidak ada ilmu, tapi egois.

Perlu kehati-hatian menyikapi orang seperti ini, jika kita salah bersikap, ujungnya hanya debat dan berselisih. Orang seperti itu cukup meragukan kalau dikasih tanggung jawab, tidak evaluatif karena merasa benar, tidak mau menerima masukan, dan cukup egois memandang segala sesuatu dengan kacamata sempurna menurut keyakinannya.

3. Kurangnya nilai spiritualitas.

Spiritualitas tidak membahas agama, tetapi dalam agama pasti ada nilai spiritualitas. Orang dengan spiritualitas yang buruk, akan buruk pula cara pandang dan bersikap dalam pergaulan, dalam bekerja, atau dalam hal apapun.
Misalnya tidak bisa dipercaya, kata-katanya mudah berubah, tidak amanah, tidak bisa di ajak kerjasama, atau curang dalam bertindak. Dia tidak mengenal apa itu baik buruk, tidak ada kontrol diri, tidak memandang sesuatu atas pertimbangan tertentu, tidak rasa ewuh (tidak enak ) pada orang lain atas sikapnya dll.

4. Lemah agamanya.

Sahabat yang baik adalah ia yang membuat diri kita juga baik, dan agama adalah paket sempurna yang mengatur kebaikan itu. Beruntung jika seseorang memiliki teman karib yang faham ilmu agama, berakhlak baik, dan taat menjalankan agamanya.
sahabat-sejati-teman-sejati-sahabat-baik
sumber
Orang yang lemah agamanya, walau pintar sekalipun, walau hebat sekalipun dalam urusan yang dipegangnya, tidak dikatakan baik jika ia masih lalai dalam urusan ketaatan pada Tuhannya. Perlu hati-hati, jangan sampai kita ikut sibuk tanpa batasan, saat berurusan dengan orang seperti itu.

Orang yang hebat adalah ia yang bisa seimbang, baik urusan keduniawiannya, atau urusan dengan Tuhannya.



Oleh : Hasan f
Share on Google Plus

Tentang : Forum Dakwah FH Indonesia

Diisi dengan uraian singkat profil , fordafhi adalah blabla....seperti itu
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar